Warga Rancaekek Minta Musyawarah dengan Pihak Pabrik Pencemar Limbah

SOREANG, (PRLM).- Sejumlah petani di empat desa di Kecamatan Rancaekek yakni Desa Jelegong, Linggar, Sukamulya dan Bojongloa meminta kepada PT. Kahatex dan PT. Insan Sandang untuk mengadakan musyawarah kembali membahas pengoptimalkan sistem kinerja IPAL, dan memberi bantuan kesehatan bagi desa yang terkena dampak air limbah dari Sungai Cikijing dan Cimande.

Saat ini, puluhan hektar sawah milik petani di Desa Sukamulya kembali terancam gagal panen karena kekeringan dan terpaksa melakukan pengairan sawah menggunakan air limbah dari sungai Cikijing dan Cimande.

Jauh sebelumnya, pada tahun 2008, para petani di Desa Jelegong, Linggar,Sukamulya dan Bojong loa sempat menggugat sejumlah pabrik di wilayah itu. Dari gugatannya pada 9 pabrik, berhasil disepakati oleh 2 pabrik yakni PT Kahatex dan PT Insan Sandang.

Dalam kesepakatan Nomor 660.1/1.423/1 tanggal 11 Juni Tahun 2008 antara PT Kahatex, PT Insan Sandang Internusa dan warga di 4 desa tersebut, pihak perusahaan sanggup mengoptimalisasi sistem kinerja IPAL, memberi bantuan kesehatan di 4 desa dengan rincian, dari PT Kahatex sebesar, Rp 2,5 juta/ bulan dan PT. Insan Sandang Rp 700 ribu per bulan.

Selain itu, PT Kahatex juga menyepakati untuk memberi bantuan pinjaman modal untuk UKM berupa bantuan Kredit peralatan mesin rajut datar, penyediaan bahan baku makloon dan bantuan pelatihan dan pemasaran. Sementara PT Insan Sandang Internusa bersedia memberikan bantuan mesin jahit sebanyak 5 unit. Dalam ketentuan tersebut, disebutkan bahwa kesepakatan tersebut sebagai kepedulian lingkungan jangka pendek dari pihak industri.

Setelah 1 tahun kesepakatan tersebut berjalan, sejumlah warga menilai bahwa pihak perusahaan tidak sepenuhnya melaksanakan kesepakatan. “Dari poin-poin kesepakatan tersebut, pihak perusahaan hanya melaksanakan bantuan kesehatan selama setahun dan memberikan 3 mesin jahit untuk desa Jelegong, Linggar dan Bojongloa, sementara 2 unit untuk desa Linggar,” kata Opo Subandar, petani di kp Rancaucing Desa Sukamulya Kecamatan Rancaekek yang terlibat dalam kesepakatan tersebut saat ditemui di kediamannya, Selasa (23/8).

Dalam kesepakatan itu, tertulis juga bahwa untuk mengawasi kesepakatan tersebut, di antaranya BPLHD dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung ditunjuk untuk mengawasi. “Jika para pengawas itu bekerja dengan baik, harusnya perusahaan tidak lagi membahayakan lahan sawah kami setiap tahun,” keluhnya.

Terkait hal ini, Dadan Ramdan dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jabar berpendapat bahwa selama pencemaran masih terjadi, pada dasarnya warga masih bisa meneruskan kembali kesepakatan tersebut.

“Salah satu kesepakatan tersebut mengatur bahwa kesepakatan bisa diperpanjang, diperbaiki atau diperbaharui. Tapi saya mengharapkan tidak hanya bantuan sosialnya saja, melainkan, kesanggupan perusahaan untuk mengoptimalkan Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL). Sedangkan dinas-dinas terkait di lingkungan Pemkab Bandung dan Sumedang yang dalam kesepakatan tersebut bertindak sebagai pengawas diharapkan tidak mengarahkan warga untuk tidak membahas akar permasalahan dari pencemaran tersebut,” ujar Dadan. (A-194/das)***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s