Menghirup Gas hingga Lemas…

 

  • Senin, 30 April 2012 | 23:24 WIB

 

KOMPAS.com – Cuaca terik di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (27/4/2012), ketika penyidik pegawai negeri sipil mengambil sampel besi bekas 11 kontainer impor dari Afrika Selatan. Di tengah pemeriksaan, Zainal Abidin (48), salah satu penyidik, terkulai lemas seusai memeriksa bagian dalam salah satu kontainer. ”Saya limbung,” katanya saat itu. Tak lama, ia dilarikan ke Rumah Sakit Dr Kariadi.

Ia merasa kepalanya pusing sehingga bergegas turun dan selonjor di trotoar agar tak ambruk saat berdiri. Sebelumnya, ia berada di dalam kontainer kedelapan (dari 11) yang diperiksa, sekitar 10 menit. Ia melengkapi dirinya dengan sarung tangan karet dan masker kain hitam yang biasa dipakai para pengendara sepeda motor.

Kepalanya terasa pening ketika hendak mengambil tabung yang terjepit di antara tumpukan bongkahan besi bekas. Udara tipis, bau menyengat, ruangan sempit, dan panas terik di luar kontainer membuatnya dalam kondisi tidak nyaman.

“Saya tidak tahu persis kenapa saya limbung. Saya tidak bisa mengada-ada tentang penyebabnya. Tubuh saya yang reaksinya limbung,” katanya. Sebelum pemeriksaan itu, Zainal sudah sarapan soto.

Seperti tujuh kontainer lain, kontainer ke delapan berisi bongkahan besi, mulai dari pelat besi, potongan pipa, seng, blok mesin, serpihan plastik, hingga rantai raksasa. Semua material bekas itu akan diolah di pabrik pengecoran besi baja yang berada di Kendal, Jawa Tengah.

Tak tahan reaksi tubuhnya yang limbung dan mual, Zainal dilarikan ke poliklinik pelabuhan sekitar pukul 11.00. Poliklinik merujuknya ke RS Dr Kariadi karena poliklinik tak menyediakan tabung oksigen. Di RS Dr Kariadi, ia juga diinfus. Belum ada kesimpulan medis tentang penyebab kondisinya itu.

Zainal bertugas sebagai penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sejak tahun 2001. Sebelumnya, ia bertugas di bagian lain.

Minggu siang, kondisi Zainal membaik. Saat meninggalkan Semarang, Jumat lalu, ia muntah-muntah. Namun, ia memaksa diri pulang ke Jakarta sore itu juga meski tubuhnya lemah. ”Saya masih harus menyerahkan draf pemeriksaan kepada kejaksaan minggu depan. Targetnya selesai,” katanya kemarin.

Bersama sejumlah PPNS KLH, PPNS Bea dan Cukai, serta aparat kejaksaan dan kepolisian, ia juga memeriksa kasus impor besi bekas terkontaminasi limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Kasus ini menempatkan pemimpin pabrik besi berkewarganegaraan China sebagai tersangkanya.

Kasus ini bagian dari tahap pertama pemeriksaan sebanyak 113 kontainer berisi besi bekas terkontaminasi limbah B3, sesuai konfirmasi laboratorium Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan (Pusarpedal) di bawah KLH. Bongkahan besi bekas itu mengandung material korosif dan beracun. Jenis limbah di antaranya timbal, arsenik, seng, dan krom, yang total konsentrasinya melebihi ambang batas normal.

”Kalau terpapar ke lingkungan berisiko bagi kesehatan dan lingkungan,” kata Henry Bastaman, Deputi VII KLH Bidang Pembinaan Sarana Teknis Lingkungan dan Peningkatan Kapasitas. Uji karakteristik menguji kadar terbakar, beracun, korosif, dan reaktif (Kompas, 29/2).

Garis depan

Menurut Asisten Deputi V KLH Bidang Penegakan Hukum Pidana Himsar Sirait, posisi PPNS berada pada garis depan kasus penanganan impor limbah B3, bersama pihak Bea dan Cukai. Setelah menerima laporan kejadian yang patut ditindaklanjuti, PPNS bergerak untuk memeriksa fisik limbah dan mengambil sampel untuk diperiksa di laboratorium. ”Kami harus siap ke mana pun ditugaskan,” katanya.

Setelah pemeriksaan fisik, PPNS membuat berita acara pemeriksaan (BAP) yang berarti siap memperkarakan kasus. Ada konsekuensi hukum yang harus dipertanggungjawabkan. Menanggung konsekuensi ini butuh kesiapan mental, salah satunya menjadi saksi di persidangan.

Untuk kasus impor besi bekas kali ini, akan ada ribuan kontainer yang harus dibuka dan diperiksa, seperti yang dilakukan di Semarang dan Jakarta. Untuk itu, KLH bekerja sama dengan pihak Bea dan Cukai.

Saat ini, ribuan kontainer berisi besi bekas itu tersebar di Pelabuhan Belawan (Medan), Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta), Pelabuhan Tanjung Emas (Semarang), dan Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya). Mayoritas berada di Tanjung Priok.

Sekitar 1.000 kontainer dinyatakan aman untuk dibawa ke pabrik dan diolah menjadi besi baja. ”Kami sama sekali tidak bermaksud menghambat industri,” kata Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kantor Bea dan Cukai Tanjung Priok Agus Yulianto. Penindakan dilakukan jika memang diperlukan sesuai dengan undang-undang.

Demi mempercepat proses pemeriksaan kasus impor limbah B3, Bea dan Cukai Tanjung Priok mengerahkan puluhan PPNS yang dibekali khusus cara mengidentifikasi limbah B3. Jumlah PPNS KLH tidak cukup untuk membuka dan memeriksa satu per satu ribuan kontainer. Di Tanjung Priok saja masih ada ribuan kontainer yang menumpuk dan menunggu diperiksa.

Setiap hari, sejumlah PPNS bergantian mengambil sampel besi bekas untuk diperiksa di laboratorium. Di Semarang, Jumat lalu, setelah mengambil sampel, PPNS membuatkan BAP yang dihadiri pihak pengimpor.

Indonesia, sejak 1990-an saja menerima ribuan ton limbah impor yang mencengangkan. Bukan hanya besi bekas bahan industri logam yang diimpor, melainkan juga puluhan ton kondom bekas dari Jerman dan Belanda. Katanya, untuk industri pengolahan produk berbahan karet.

Di tengah guyuran impor limbah, pemeriksaan jelas membutuhkan kerja ekstra. Jumlah PPNS terbatas, apalagi dengan kemampuan teknis yang khusus. Apa yang dialami Zainal Abidin hanya potret kecil dari ratusan atau ribuan penyidik yang bersanding dengan risiko tugas, termasuk tekanan dari pihak lain.(Gesit Ariyanto)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s