Limbah Impor Banjiri Pelabuhan

 

  • Senin, 30 April 2012 | 09:35 WIB
| FOTO: KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ/GESIT ARIYANTO
 

JAKARTA, KOMPAS.com — Ribuan kontainer limbah impor tertahan di sejumlah pelabuhan besar di Indonesia. Kontainer yang tertahan itu berisi ribuan ton besi bekas untuk bahan industri logam. Sebagian di antara besi bekas itu terindikasi terkontaminasi limbah bahan beracun dan berbahaya.

Impor limbah untuk bahan industri memang diizinkan. Namun, jelas-jelas ditegaskan, limbah impor itu tidak membahayakan lingkungan dan kesehatan (nonbahan beracun dan berbahaya/B3). ”Kalau mengandung B3, ketentuan hukum sudah jelas tidak mengizinkan,” kata Deputi V Bidang Penaatan Hukum Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Sudariyono di Jakarta, Sabtu (28/4/2012).

Jumat lalu, KLH bersama penyidik dari kejaksaan dan kepolisian membuka 11 kontainer berisi besi bekas impor dari Afrika Selatan yang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Hari Sabtu, giliran 102 kontainer serupa dibuka di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Sisanya menunggu pemeriksaan di Pelabuhan Belawan, Medan, dan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Sebelumnya, awal April lalu, ratusan kontainer dibuka di Tanjung Priok. Kontainer ternyata tidak hanya berisi bongkahan besi-besi bekas, tetapi juga tercampur tanah, oli bekas, aspal, dan plastik. Bau bahan kimia menguar ketika pintu kontainer dibuka.

Semua kontainer tersebut merupakan bagian dari sekitar 7.000 kontainer berisi besi bekas impor dari sejumlah negara yang masuk Indonesia sejak Januari 2012. Sebagian di antaranya sudah diizinkan keluar pelabuhan untuk diolah di pabrik besi karena dinilai memenuhi syarat.

Menurut Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kantor Bea dan Cukai Tanjung Priok Agus Yulianto, ribuan kontainer itu sebelumnya masuk fasilitas jalur hijau, yang berarti tidak memerlukan pemeriksaan fisik. ”Sejak ada nota hasil intelijen, (kontainer tersebut) masuk jalur yang harus diperiksa,” kata Agus. Nota muncul setelah tercium adanya kejanggalan.

Berawal dari munculnya nota itu, ribuan kontainer impor berisi besi bekas yang masuk di semua pelabuhan di Indonesia, sejak awal tahun 2012, masuk jalur merah yang harus diperiksa ketat. Pemeriksaan melibatkan pengawas dan penyidik KLH, Bea dan Cukai, kejaksaan, dan kepolisian.

Di Tanjung Perak, pada periode Februari-April, ditahan 113 kontainer yang diduga memuat barang mengandung limbah B3. Sebagian besar impor dari Inggris dan Belanda. Semua kontainer disimpan di lokasi khusus seluas 500 meter persegi sehingga tidak mencemari kontainer lain.

”Begitu ada indikasi memuat limbah berbahaya, barang langsung kami amankan,” ujar Kepala Sub-Seksi Penindakan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Tanjung Perak Wahyudhi Arief.

Di Pelabuhan Belawan, 85 kontainer berisi besi bekas tertahan untuk penanganan lebih lanjut. Kontainer yang tersebar di beberapa tempat itu diimpor dari Bahrain, Rusia, Perancis, Irlandia, dan Afrika Selatan. Kontainer-kontainer itu menunggu pemeriksaan bersama.

Hasil laboratorium

Sejauh ini, hasil pemeriksaan laboratorium Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan (Pusarpedal) di bawah KLH terhadap 113 kontainer di Tanjung Priok menunjukkan, mayoritas material sampel uji menunjukkan sifat korosif dan beracun. Adapun jenis limbah B3 yang terkandung adalah timbal, arsenik, seng, dan krom yang melampaui ambang batas toleransi.

Karena melanggar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan LH dan UU No 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, kasus itu dilanjutkan ke proses hukum. Sebanyak 89 kontainer sudah direekspor ke Inggris, sedangkan 24 kontainer dalam proses reekspor ke Belanda. Reekspor tidak menutup proses tuntutan hukum.

Secara bertahap, penyidik pegawai negeri sipil juga mengirimkan sampel-sampel yang sudah diambil dan ditandai ke Pusarpedal. Pemeriksaan juga dilanjutkan dengan pembuatan berita acara pemeriksaan (BAP) yang, sesuai ketentuan, harus dihadiri wakil perusahaan. Di Semarang, Giyanto, pemilik 11 kontainer impor, kooperatif ketika dibuatkan BAP, Jumat.

Ia sempat mempertanyakan pemeriksaan yang dinilainya merugikan. Ia memiliki semua dokumen yang dibutuhkan, termasuk keterangan dari penyurvei. Sebelumnya, ratusan kontainer serupa miliknya lolos pemeriksaan.

Protes industri

Penahanan kontainer-kontainer itu sempat memunculkan protes dari Asosiasi Industri Besi dan Baja. Mereka menyatakan bahwa importasi besi bekas untuk bahan baku industri sudah berlangsung 30 tahun dengan pemahaman pentingnya menjaga keselamatan lingkungan. Mereka menilai penahanan kontainer tersebut hanya akan menghambat pertumbuhan industri baja, bahkan mengancam keberlanjutannya (Kompas, 24/2/2012).

Menurut Sudariyono, KLH tidak mempersulit industri besi baja yang sedang tumbuh, tetapi justru melindungi keberlanjutannya dengan penggunaan bahan baku yang bersih.

Adapun serangkaian pemeriksaan dilakukan karena ada laporan yang patut dibuktikan kebenarannya. Kalau benar-benar bersih, Bea dan Cukai bisa mengizinkan keluarnya kontainer, bahkan sebagian di antaranya sudah diizinkan keluar.

Di tengah berbagai tarik ulur, termasuk keterbatasan tenaga pemeriksa di lapangan, pemeriksaan masih akan terus dijalankan. ”Kami serius dengan pemeriksaan yang kami lakukan. Di mana pun diperlukan,” kata Sudariyono. (GSA/ARA/MHF/WSI/RAZ/WHO)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s