BPLH Kab Bekasi tak Aspiratif Tangani Limbah B3 [Nusantara]BPLH Kab Bekasi tak Aspiratif Tangani Limbah B3

Bekasi, Pelita
Permohonan PT Nirmala ke Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Kabupaten Bekasi untuk mendapat izin pengolahan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) diharapkan menjadi perhatian khusus, karena selama ini, perusahan pengolah oli bekas itu keberadaannya meresahkan masyarakat.
Kami berharap pihak instansi terkait melakukan tinjauan lokasi dan meminta tanggapan warga sekitarnya atas kegiatan pengumpulan/pengolahan oli bekas perusahaan itu sebelumnya. Pemilik perusahan itu sangat tidak peduli lingkungan, ucap sejumlah warga Desa Pasir Randu, Kecamatan Serang.
Menurut mereka, meski izin yang dimohonkan perusahan itu berada di Desa Tegal Gede, Cikarang Pusat, tetapi izin pengolahan/penyimpanannya ada di Desa Pasir Randu. Karena itu, kami sangat berharap pihak terkait meneliti persyaratannya, harap warga.
Selama berkecimpung mengolah oli bekas, perusahaan ini, mempunyai tempat pengolahan di beberapa tempat. Limbah oli hasil pengolahannya dibuang ke Kali Malang pada malam hari dengan menggunakan truk tangki.
Ketika itu dikonfirmasi kepada pemilik perusahan, Nelson, ia membantah. Menurutnya, pihaknya tidak pernah membuang limbah beracun ke Kali Malang. Kami buang limbahnya kalau sudah netral dan tidak mengandung bahan kimia berbahaya, kilahnya.
Sumber yang layak dipercaya menyebutkan, permohonan lokasi pengumpulan yang diajukan PT Nirmala tidak sama dengan realita di lapangan. Yang dimohon di Desa Tegal Gede, tetapi penyimpanannya di Desa Pasir Randu, jelas sumber itu. Karena itu masyarakat berharap BPLH jeli melakukan penelitian sebelum merekomendasikan izin ke Kementerian Lingkungan Hidup.
Sementara Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pemerintah Daerah Bekasi (LP3DB) Jonly Nahampun, meminta BPLH untuk benar-benar peduli lingkungan hidup. Jangan karena sesuatu masyarakat yang menjadi korbannya.
Dikatakan, selama ini banyak perusahaan yang merusak lingkungan dengan membuang limbahnya ke kali. Akibatnya kali tercemar dan menimbulkan bau tak sedap serta membuat air sumur warga jadi tercemar.
Sebagai contoh, ia menyebutkan tentang pencemaran limbah mengandung B3 di PT Fajar Paper dan PT Protechma Indonesia. Masyarakat mengeluh, namun pihak BPLH seolah tutup mata dan mengatakan, kedua perusahaan itu membuang limbahnya setelah melalui proses penetralan. Jonly bahkan menuding pihak BPLH berperan sebagai Humas perusahan. Kalau itu terjadi, Bupati harus tegas untuk menindak oknum pejabat bersangkutan, pintanya.
Sementara salah seorang staf Bidang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) Asti yang dihubungi mengatakan, pihaknya sudah turun meneliti ke PT Protechma Indonesia. Hasilnya, kata Asti sudah dilaporkan ke Kepala BPLH Ir Daryanto. Bahkan menurut Asti, laporan hasil penyelidikan mereka ke lapangan sudah diteruskan ke Bupati Bekasi.
Menanggapi hasil penelian itu, Jonly N mengatakan, pihak BPLH harus menyampaikan kepada masyarakat secara terbuka, dan jangan ada yang ditutup-tutupi. Harus transparan disampaikan kepada masyarakat, katanya.
Selain bermasalah soal limbah, PT Protechma, juga disebut-sebut membuat empat sumur bor menggunakan pompa satelit berkedalaman 100 meter lebih serta melarang karyawan membentuk unit serikat pekerja. Karyawan yang mencoba membentuk unit SPSI diancam akan di PHK. (yot)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s